[ID] A story of a dog

April 2, 2006

Feb 26, 2004. A story in Indonesian that I wrote.

seekor anjing berjalan disebuah sudut jalan. langkahnya gontai kelelahan, kepalannya tertunduk menyusuri jalan. terlihat lidahnya terjulur keluar mencari penawar haus dahaga. malam ini begitu dingin, segalanya terlihat remang-remang. sang anjing pun merasakan demikian. telinganya tegak waspada. namun kelelahan tubuhnya membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. seberkas cahaya bulan mengenai tubuh sang anjing. terlihat goresan-goresan kejam ditubuhnya. luka-luka robek dan sayatan mewarnai bulunya yang kecoklatan. bercak-bercak luka mengering menjadi pengingat kisah pahit perjalanan hidupnya.

Ctak! Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Sang anjing menjadi sangat waspada. ia menaikkan kepala dan telinganya, mencoba mendengar bunyi-bunyian disekitarnya. matanya bergoyang-goyang, mencoba menangkap gerakan yang nyaris tak terlihat. Nafas anjing itu makin tersengal-sengal. Capek! Tapi harus bertahan hidup. sang anjing memutuskan untuk mencari tempat perlindungan sementara. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia berlari-lari kecil menuju sebuah gang kosong. Dilihatnya setumpukan sampah menggunung di sebuah sudut. Sepertinya bisa menjadi tempat perlindungan sementara. Sang anjing, mendatangi tumpukan sampah tersebut, dan merebahkan dirinya diatas kantong-kantong bau sisa kotoran-kotoran manusia.

Nyaman sekali rasanya, mungkin akhirnya sang anjing bs beristirahat dengan tenang. Selagi sang anjing terbaring, sekilas matanya menceritakan perjalanan hidupnya. Sepanjang ingatannya, ia sudah menggelandang di tengah dunia. Tak ada orang tua, tak ada kawan. Menerawang jauh ke masa lalu, sang anjing teringat ketika ia pernah bepergian bersama beberapa ekor anjing liar lainnya. Mereka mencari makan bersama, mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan. Memohon-mohon pada para manusia yang sedang menikmati makanannya disebuah warung.

Lalu ia terpisah. Mereka mendadak lenyap ditelan malam. Kembali sebatang kara, sang anjing meneruskan perjalan hidupnya. Melintasi gang antar gang, melewati jalan antar jalan. Mencari cara untuk melewati hari itu.

Tak sedikit penderitaan sang anjing, banyak sekali anak-anak nakal yang suka mempermainkan ia. Bebatuan berterbangan menghujam tubuh dagingnya. Menusuk. Rasa sakitnya seringkali menembus sampai ke tulang-tulang. Atau orang-orang lain yang seringkali kesal dengan keberadaan sang anjing. Mereka memaki-maki bahkan seringkali menendang, memukul. Sang anjing tanpa tenaga sedikitpun hanya dapat menerima dan berusaha pergi secepatnya. Pernah suatu kali seorang pemilik restoran mengejar-ngejarnya dengan mengibas2kan golok. Betapa ketakutan sang anjing melihat beringasnya sang pemilik restoran tersebut. Sang anjing berlari sekencang-kencangnya. Melewati belokan-belokan gang. Menyusuri jalan-jalan sempit. Tidak! Jalan ini buntu! Sebuah pagar kawat menutup jalan larinya. Sang anjing menjadi bingung dan gusar. Sejenak ia termenung mencari jalan lain. Sebuah sobekan pada pagar tersebut terlihat, namun sepertinya duri2 dari kawat begitu menyakitkan. Terdengar langkah2 berat dari sang pemilik restoran. Sang anjing tidak dapat berpikir lagi. Sesaat perih, lalu dingin menyusuri tubuh… lembab, basah. tetesan-tetesan darah mewarnai tubuhnya. melukis jalan tempat sang anjing melangkah dengan gontai. goresan-goresan pada tubuhnya lambat laun sembuh namun meninggalkan bekas mengerikan.

Memory sang anjing sepertinya penuh kepahitan. Namun sang anjing teringat, pada gadis lucu digang ketiga. Ia ingat bagaimana sang gadis sering mengajaknya bermain dan terkadang memberikan ia makanan. Ia teringat kehangatan sang gadis ketika ia memeluknya dengan penuh hangat. Hati sang anjing sangat senang dikala itu. Atau kepada seorang anak lelaki yang sering mengelus-elusnya. Anak tersebut senang sekali berpergian dengan sepeda, sang anjing seringkali mengiringi sang anak dengan berlari-lari kecil disamping sepeda tersebut.

pandangan sang anjing mulai kabur. kelelahan yang luar biasa mulai menguasai. tak mampu lagi sang anjing menggerakan badannya. napasnya mulai melambat.. sejenak terlihat genangan air dibawah tubuh anjing tersebut. dingin nya malam makin menusuk kedalam rusuk-rusuk tubuh sang anjing. kehangatan mulai meninggalkan tubuhnya. genangan tersebut semakin membesar. merah, lengket, amis. darah anjing tersebut terus membasuh sampah dan jalan tempat berbaringnya sang anjing. menyucikan dan menandai tempat perhentian terakhirnya. sebuah luka menganga besar. tak ada yang tau mengapa, tak ada yang perduli. semuanya berlalu begitu saja. dan kehidupan berjalan normal, demikianlah pikir kita.

( for Morning Star, Melissa. 😉 )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: