[ID] Hidup manusia itu sungguh lucu

April 2, 2006

Hidup manusia itu sungguh lucu. (lit. A man’s life is very funny). Written in Feb 18, 2004

2004-02-18 – 10:31 p.m.

Hidup manusia itu sungguh lucu. Semua terkadang terlihat sama, berulang, homogen. Sebuah kesamaan di dalam varietas yang bervariasi. Predictable? Mungkin segala sesautu datang dan pergi. Segala sesuatu memiliki masanya sendiri.

Demikian pula dengan malam ini. Udara terasa dingin menyengat. Angin bertiup kencang. Namun hatiku lebih dingin dan lebih menyengat dari semua itu. Tidak sekali dan juga bukan kali kedua hal ini terjadi. Ironisnya hal ini sering kali terjadi. Semua manusia tidak pernah belajar. Mungkin lebih tepatnya aku, tidak pernah belajar. Seperti kata seorang teman, ‘Pada dasarnya semua orang itu masochist.’ Akupun mulai merasa demikian. Kalau tidak, buat apa aku melakukan ini semua.

Sebagai tambahan informasi saja, aku menulis ini diatas buku notes biru milikku di tengah cahaya remang-remang yang tidak cukup bahkan untuk membaca. Tanpa alas ataupun meka. Hanya berbekal tangan dan pensil saja. Apakah ini bukan tanda-tanda seorang yang masochist?

Aku sedang berdiri di beranda atau balkin dari apartemenku. Berdiri sendiri dalam gelap dan menikmati angin malam. Entah mengapa waktu seperti berjalan sangat cepat ketika aku berdiri disini. Lampu-lampu kendaraan bergerak lalu-lalang dan lampu-lampu perkotaan mewarnai lukisan malam ini. Indah. Aku seperti terhipnotis. Sering aku tertegun dan termangu dibuatnya. Disini, aku dapat mengalihkan pikiranku sepenuhnya dan tidak berpikir. Hanya diam dan menikmati.

Seandainya aku dapat merasakan hal ini setiap waktu. Namun tentu saja sang hidup harus bertingkah kejam dan membawaku kembali kedalam kehidupan nyata. Sesekali aku memikirkan tentang ‘dia’ dan ‘dia’-‘dia’ yang lain. Terkadang aku bertanya, apakah hal ini benar? Apa yang sedang aku lakukan? Segala pertanyaan tak terjawab. Disini, aku setidaknya dapat membiarkannya tak terjawab. Aku yang ada disini adalah aku yang hidup sendirian, terpisah. Hanya mengamati. Aku dapat berbuat sesuka hatiku. Tentu saja hal itu cukup menguntungkanku. Disini tidak ada kekecewaan. Hanya kehampaan dan pengertian. Yah, mungkin disinilah salah satu tempat dimana ilham melayang dengan penuh kebebasan. Tidak terkungkung aka sindiran dan perhatian orang lain. Tempat berekspresi bebas yang menjadi tempatku mencari kebenaran.

Siapakah aku? Mengapa aku? Dimanakah aku? Untuk apaakah aku? Bagaimana aku? Semua pertanyaan telah menguap. Menguap dalam pekatnya gelap malam dan semilir angin. Yang tertinggal hanyalah kehampaan dan homogensi yang perlahan-lahan mengendap kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: